Bolatimes.com - Gelandang Liverpool, James Milner bercerita tentang masa kecilnya yang dibesarkan di keluarga suporter setia Leeds United klub kebanggaan kota Leeds, kota kelahirannya.
Milner bercerita bagaimana ia dibesarkan untuk membenci klub rival dari Manchester yaitu Manchester United, ia sampai dilarang mengenakan atribut berwarna merah khas MU.
Petualangan sepak bola Milner dimulai di Leeds United pada 2002, kemudian ia sempat bermain di Newcastle United dan Aston Villa, bahkan pada 2010 ia mencari uang di Manchester tapi bersama Manchester City bukan Setan Merah. Terakhir ia kini membela Liverpool sejak 2015.
Kebencian Milner terhadap MU tumbuh seiring rivalitas antara Leeds dan United yang memiliki sejarah rivalitas sejak dulu meski kini sudah mulai mereda seiring prestasi minor Leeds United.
''Tentunya suporter Leeds dibesarkan untuk benci Manchester United, sebagai rival, jadi warna merah itu dilarang,” kata Milner dilansir Bolatimes.com dari fourfourtwo.
Keputusannya untuk bergabung dengan Liverpool yang notabene klub jersey merah pertama yang ia bela justru membuat sang ayah semakin bangga karena Liverpool memiliki 'musuh' yang sama dengan Leeds yaitu Manchester United.
''Ayah saya bercanda ketika saya bergabung dengan Liverpool, dengan mengatakan bahwa itu adalah kali pertama dia merasa senang untuk melihat saya secara reguler memakai warna merah,'' cerita Milner.
Kini usianya sudah 32 tahun, sudah saatnya bagi Milner untuk memikirkan masa depan, jalan menjadi pelatih adalah jalan satu-satunya yang kini sedang ia tata.
''Saya pikir itu akan sia-sia jika tidak menggunakan pengalaman yang telah saya bangun selama lebih dari 16 tahun,” lanjut Milner. Saya harap saya bisa menggunakan itu sekarang dengan para pemain muda di sini di Liverpool, dengan membantu mereka sebanyak mungkin,'' jelas Milner.
Sebagai catatan, Leeds adalah sebuah tim Inggris yang sukses pada era 1990-an dengan koleksi gelar Piala FA 1972, Piala Liga 1968, menjadi finalis Piala Eropa (kini Liga Champions -red) 1975, dan bahkan menjuarai Liga Inggris sebanyak tiga kali (1969, 1974, dan 1992). Namun krisis financial membuat mereka bangkrut dan terpuruk turun kasta ke divisi championship pada 2004.
Berita Terkait
-
Grimsby Town Tantang Manchester United, Mimpi atau Bencana?
-
Liverpool Siap Rekrut Marc Guehi: Crystal Palace Terpojok di Bursa Transfer
-
Muda dan Berbakat, Giovanni Leoni Jadi Target Transfer Panas Liverpool
-
Marcus Rashford Bongkar Kekacauan MU: Tidak Ada Rencana Jangka Panjang
-
Harry Maguire Blak-blakan: Semua Benci Manchester United!
-
Alejandro Garnacho Ancam Manchester United: Lepas ke Chelsea atau Saya Magabut
-
Man City vs Wolves: Krisis Cedera Hantui Laga Pembuka Premier League 2025
-
Statistik Menggila! Inilah Alasan Benjamin Sesko Layak Jadi Mesin Gol Setan Merah
-
Gila-Gilaan! MU Mau Datangkan Duo Bintang Premier League dan PSG Sekaligus
-
Geger di Old Trafford! Suporter Man United Batalkan Demo Besar, Ada Apa?
Terkini
-
Tudor Murka! Bela Mati-Matian Vlahovic dari Ejekan Suporter Juventus
-
Debut Langsung Juara! Luca Chevalier Buktikan Depak Donnarumma Keputusan Tepat
-
Lucas Chevalier, Kiper Bergaya Playmaker yang Antar PSG Juara Piala Super Eropa
-
Inigo Martinez Pilih Uang Besar daripada Treble Bersama Barcelona
-
Alvaro Morata Resmi Gabung Como: Siap Hancurkan Pertahanan Serie A
-
Nilai Transfer Rp875 Miliar, Ramsey Jadi Investasi Besar Newcastle United
-
Luis Enrique: PSG Tidak Pantas Kalahkan Tottenham
-
Napoli Taklukkan Olympiakos, Conte Kirim Sinyal Kesiapan Jelang Serie A
-
Muda dan Berbakat, Giovanni Leoni Jadi Target Transfer Panas Liverpool
-
Mbappe Bersinar, Real Madrid Hajar WSG Tirol 4-0 Tutup Pramusim