Sabtu, 23 November 2019
Galih Priatmojo : Jum'at, 25 Oktober 2019 | 17:00 WIB

Bolatimes.com - Harapan Timnas Indonesia bisa tampil di ajang bergengsi selevel Piala Dunia akhirnya bisa terwujud setelah FIFA resmi menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah gelaran Piala Dunia U-20.

Berita itu tentu jadi kabar gembira bagi para pecinta sepakbola tanah air tak terkecuali bagi Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria.

Ya, siapa sangka dara cantik yang menjadi sekjen perempuan di PSSI untuk pertama kalinya sejak 87 tahun itu ternyata sudah sejak lama memendam mimpi bisa melihat Timnas Indonesia bisa berlaga di pentas dunia seperti Piala Dunia.

Hal itu pernah diungkapkannya setahun lalu saat tampil dalam sebuah acara talkshow bertajuk Hitam Putih yang dibawakan oleh Deddy Corbuzier.

Dalam salah satu sesi obrolannya, Ratu Tisha sempat mendapatkan tantangan jawab cepat. Saat itu Deddy memberi pilihan pertanyaan yakni jomblo seumur hidup atau Timnas Indonesia masuk Piala Dunia?

Dara cantik yang merupakan alumnus FIFA Master 2013 ini dengan tegas memilih jawaban Timnas Indonesia masuk Piala Dunia.

Pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy dan Sekjen PSSI, Ratu Tisha (Sumber: pssi.org)

"Really? Serius Ini, Pasti..pasti serius," jawab Tisha saat kembali dipastikan oleh Deddy.

"Ini itu impian saya sejak dari kecil, tumbuh di lingkungan sepakbola seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. Saya pernah berikrar ingin berkontribusi untuk sepakbola Indonesia, dan saya yakin itu bisa," ungkapnya.

Lebih lanjut, Deddy kembali memastikan bahwa itu adalah pilihan yang sulit membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia.

"Tapi pilihannya itu anda jomblo seumur hidup dan Indonesia masuk Piala Dunia its difficult," kata Deddy.

"Timnas Indonesia harus masuk Piala Dunia dan saya yakin kita akan antarkan itu," ucap Tisha meyakinkan.

Tak hanya di situ, dalam sesi obrolan tersebut, Tisha yang baru saja kehilangan sosok sang ayah juga sempat bercerita tentang kenangannya bagaimana tumbuh dan berkenalan dengan sepakbola.

"Saya dulu kerap diajak ayah nonton bola baik di stadion atau lewat televisi ya sekitar umur 15 tahun. Bahkan dari situ sepakbola seperti sudah tumbuh di dalam diri hingga dewasa," jelasnya.

"Jadi setiap kali kuliah matematika di kampus saya berusaha menghubungkan dengan sepakbola. Ada tugas dari dosen saya memilih hal yang terkait dengan sepakbola," tambah lulusan ITB jurusan matematika ini.