Galih Priatmojo
Pelari Jepang, Rei Iida nekat melanjutkan perlombaan meski kakinya patah. Ia bahkan memaksa merangkak hingga ujung garis finish. [@kwilli1046/Twitter]

Bolatimes.com - Kisah luar biasa ditunjukkan oleh seorang pelari asal Jepang bernama Rei Iida. Pelari berusia 19 tahun itu berjibaku sekuat tenaga mencapai garis finish meski kakinya patah.

Peristiwa itu terjadi pada 23 Oktober silam ketika digelar lomba lari estafet jarak jauh yang disebut Ekiden. Lomba tersebut digelar di prefektur Fukuoka.

Dilansir dari sport.inquirer, Iida mengalami musibah saat berusaha berlari menghampiri rekannya di garis finis. Kakinya cedera hingga sulit untuk digerakkan.

Baca Juga:
Timor Leste Bukan Tim Kacangan, Timnas Indonesia Wajib Waspada

Namun bukannya berhenti atau menyerah, Lida justru meneruskan usahanya berlari menggunakan lututnya alias merangkak. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki dan lutut yang mulai berdarah perlahan ia merangkak sejauh 200 meter menuju garis finish.

Aksi itu membuat rekannya yang menunggu di garis finish tak kuasa membendung air matanya lantaran terharu melihat perjuangan gadis belia itu. Sementara dari tepi jalan sejumlah penonton memberikan dukungan dan semangatnya.

Kisah heroik Iida itupun sempat diabadikan lewat video dan dibagikan oleh pemilik akun Twitter @ kwilli1046 pada 11 November kemarin. Video itu pun mendadak viral dan sudah ditonton 4,5 juta netizen.

Baca Juga:
Rekor Pertemuan Indonesia vs Timor Leste, Harusnya Menang

Beberapa netizen yang melihat aksi luar biasa itu pun berucap bangga.

''Salut sedalam-dalamnya untuknya. Dia adalah definisi sejati seorang juara,'' kata Kirston J Pittman (@KingKofROM).

''Pelajarannya di sini: Ini tidak selalu tentang menang, ini tentang menyelesaikan balapan dengan hormat, '' kata NancyB (@ villyforever55).

Baca Juga:
Pelatih Timor Leste Kritik Rumput SUGBK yang Rusak Akibat Konser

Setelah perlombaan usai, Iida diketahui mengalami patah kaki kanannya dan akan membutuhkan waktu hingga empat bulan untuk pulih.

Sementara itu rekan setimnya, Iwatani Sangyo, tidak senang dengan hasilnya. Pelatih timnya pun sebetulnya sudah sempat memberitahu pihak berwenang bahwa mereka akan mundur dari perlombaan mengingat kondisi Iida saat itu tapi tak ada respon. Mereka pun menyesalkan jika akhirnya Iida harus mengalami cedera parah dan absen lama.

Di pihak lain, panitia penyelenggara mengatakan Iida tidak dapat dihentikan karena keinginannya untuk melanjutkan perlombaan waktu itu.

Baca Juga:
Bima Sakti Lakukan Rotasi Saat Timnas Indonesia vs Timor Leste

Load More