bolatimes.com - Salah satu wasit berkualitas yang sudah mengantongi lisensi FIFA yang dimiliki Indonesia saat ini ialah Aprisman Aranda.
Aprisman Aranda bersanding dengan sejumlah wasit lain yang telah lebih dahulu mengantongi lisensi FIFA seperti Thoriq Alkatiri hingga Fariq Hitaba
Selain tiga nama yang telah disebutkan di atas, masih ada dua nama lain yang juga sukses meraih lisensi FIFA pada 2021, yakni Yudi Cahyana serta Dwi Purba Wicaksana.
Dibandingkan nama-nama itu, Aprisman Aranda tentu menjadi salah satu nama yang mencolok.
Sebab, dia dinobatkan sebagai wasit FIFA termuda dari Indonesia. Ketika memperoleh lisensi FIFA, usianya saat itu masih 30 tahun.
Aprisman Aranda telah memulai kariernya di dunia perwasitan sejak tahun 2006. Ketika itu, ia mulai menjadi pengadil di atas lapangan saat duduk di bangku SMA.
Perjalanan Aprisman Aranda untuk menggeluti wasit sebagai sebuah profesi terus berlanjut hingga saat itu. Dua tahun berselang, atau tepatnya pada tahun 2008, ia meraih lisensi nasional.
Sebetulnya, keputusan Aprisman Aranda untuk meniti karier di dunia perwasitan tak terlepas dari sosok ayahnya. Sebab, ayahnya juga seorang wasit nasional.
Jejak itulah yang ingin dilanjutkan oleh Aprisman.
“Bapak saya dulu adalah wasit nasional. Beliau terakhir kali bertugas untuk memimpin pertandingan Liga Bank Mandiri 2003,” ujarnya dikutip dari kanal YouTube milik PSSI.
“Jadi, saya mengikuti beliau dari pertandingan ke pertandingan. Mulai dari laga tarkam hingga beliau memimpin laga Liga Indonesia,” ia melanjutkan
Setelah mengantongi lisensi wasit dari PSSI pada tahun 2008, Aprisman Aranda tak begitu saja merasa puas. Dia lalu berusaha untuk meningkatkan levelnya agar mendapat lisensi FIFA.
Pertama kali, Aprisman memulai mendaftar lisensi wasit FIFA pada tahun 2012. Sayangnya, harapan Aprisman tak langsung membuahkan hasil.
Sebetulnya, Aprisman juga harus meninggalkan pekerjaannya di salah satu Bank BUMN terbesar di Indonesia.
Padahal, ketika itu dia sukses lolos seleksi pekerjaan di Bank tersebut. Namun, ia hanya betah bekerja selama kurang lebih empat hari.
Setelah empat hari bekerja, dia memutuskan resign dari pekerjaannya di Bank BUMN tersebut. Sebagai gantinya, Aprisman memilih mengikuti program Young Referee AFC Festival U-14 di Sabah, Malaysia.
Pada saat itulah, Aprisman menjelaskan bahwa momen itu menjadi awal kariernya sebagai wasit di level Asia.
Fakta lain yang juga diungkap Aprisman yakni, karena sempat gagal mendapatkan lisensi FIFA, ia sempat berpikir untuk meninggalkan profesinya sebagai wasit.
Pasalnya, ketika itu, ia juga bekerja sebagai guru honorer. Padahal, gaji yang diterima sebagai guru honorer terhitung minim.
Baru delapan tahun sejak mendaftar, Aprisman sukses mewujudkan harapannya mendapat lisensi wasit dari FIFA.
Sebab, dia baru bisa lolos lisensi FIFA pada tahun 2020. Dengan demikian, tahun ini adalah tahun keduanya mengamankan lisensi dari induk sepak bola dunia itu.
Tag
Terpopuler
-
Laba Bersih DIGI Melonjak 45,1 Persen, Arkadia Digital Media Perkuat Bisnis AI dan Jaga Fundamental Keuangan
-
Laba Bersih Arkadia Digital Media Melonjak 45,1 Persen pada 2025, Sentuh Rp1,76 Miliar
-
8 Cara Menyiapkan Dana Darurat dengan Tepat untuk Kestabilan Keuangan
-
6 Tips Agar Perjalanan Mudik Lebih Nyaman saat Naik Pesawat
-
Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
Terkini
-
Delapan Tangan Leo Navacchio: Rekor Gila di Pekan Pembuka BRI Super League
-
Reza Arya Cetak Rekor 100 Laga, Bakal Geser Maarten Paes dan Emil Audero?
-
Persib Incar Awal Musim Sempurna: Juara Liga dan Tembus Asia
-
Rumput JIS Kembali Jadi Polemik: Kenapa Lapangan Rp2 Triliun Selalu Jadi Sorotan?
-
Markas Persija Disindir Mantan: Stadion Bagus, Tapi Rumput Tak Ada yang Urus